Rabu, 09 Maret 2011

Fitnah ala Ras Manusia


Fitnah ala Ras Manusia
Written by: Ruli Amirullah

Assalamualaikum WrWb,
Dear all,
Kemaren abis nonton Tukul edisi jalan-jalan ngeliat buaya. Ternyata ada beberapa fakta seputar buaya yang di-ubah oleh manusia dan menjadi fitnah bagi si buaya itu lho! Ini contohnya:

1.       Fitnah #1 – Air Mata Buaya
Istilah air mata buaya sering dipake oleh ras manusia untuk menggambarkan seseorang yang gemar menggunakan air matanya untuk mewujudkan keinginannya. Dengan kata lain, tuh orang pura-pura nangis untuk menggambarkan perasaan dia. Pura-pura. Jadi hatinya yang terdalam mah sebenernya tidak pengen nangis…
Fakta – Buaya hanya menangis satu kali seumur hidupnya
Nah! Bertolak belakang banget kan ama istilah tadi? Faktanya, buaya hanya mengeluarkan air mata satu kali seumur hidupnya! Just once in a life time! Mau tau kapan? Yaitu sesaat sebelum mereka meninggal dunia! Wew.. jadi sebenernya air mata buaya tuh penuh arti banget. Gak asal dikeluarin…

2.       Fitnah#2 – Buaya Darat
Kalo istilah ini sering banget disematkan pada orang yang playboy, gonta ganti pasangan. Jadi kesannya, buaya air pun seperti itu kelakuannya.
Fakta – Buaya itu monogami
Padahal ternyata, buaya air malah penganut monogami. Gak seperti hewan lain yang mungkin punya banyak betina (misalnya ayam atau singa), maka buaya justru hanya punya satu betina. Lantas kenapa ras manusia menggunakan istilah buaya darat? Mungkin lebih cocok singa darat atau ayam darat (lha.. tapi singa ama ayam kan emang tinggal di darat juga ya?? Hahaha…)

Nah itu baru seputar fitnah ras manusia terhadap hewan yang bernama buaya. Tapi kayaknya emang kita paling seneng kalo urusan jelek-menjelekkan. Contoh lain adalah kalo kita berbuat salah atau dosa. Sebut aja pembunuhan, pemerkosaan, judi atau narkoba. Maka apa yang sering diucapkan? “saya sedang kerasukan setan saat itu…”

Lha.. setan jadi ikut-ikutan!
Padahal andai memang setan menggoda manusia pun, itu hanya sebatas godaan, rayuan, bisikan. Setan hanya menghembuskan akal bulusnya ke telinga dan hati. Tapi ia tidak pernah mengancam kita, memaksa kita, apalagi dengan pistol di kening kita agar kita mau melakukan bujukan setan.
Ga pernah kan?
Kitanya aja yang mudah tergoda, baru dirayu sedikit aja langsung manut-manut. Pas ketauan, nyalahin setan 100%... aku bukan ngebela setan lho, amit-amit, apalagi jadi pengacaranya. Audzubillah min dzalik deh..
Cuma mo ambil kesimpulan, bahwa kita ga bisa lepas tangan atas segala tindakan buruk kita dan seenaknya nyalahin setan atas itu semua. Kita tetep bertanggung jawab penuh.

Eh, trus coba deh kalo dibalik.
Misalnya kita abis nyumbang ke orang-orang fakir miskin sebesar 1 milyar, trus ada wartawan yang ngerubungi kita. Pernah ga kita bilang bahwa saat nyumbang kita lagi ‘kerasukan malaikat?’ hahaha…  gak pernah ada kan?
Yang ada, biasa ras manusia akan menjawab ‘sudah sepatutnya kita saling berbagi, bla bla bla…’
Intinya, saat manusia berbuat benar, itu murni hasil pemikiran kita seutuhnya. Gak ada intervensi dari malaikat dan suara hati yang selalu membisiki pada kebaikan. Gak ada…

Pokoknya merasa dirinya baik banget deh. Dirinya sendiri. Tanpa sebab dan bantuan pihak lain.

Curang ya? Giliran yang ga enak, itu karena intervensi pihak lain…
Giliran yang bagus-bagus, gak ada intervensi pihak lain…

Kenapa ya kita seneng banget jelek-jelekin orang laen?
Seneng banget nyalahin orang laen?

Sedihnya lagi, belakangan ini malah fitnah manusia makin hebat. Segala kekerasan, kekejaman, pembantaian, dilakukan dengan alasan Tuhan! Atas nama Tuhan!
Can you imagine that??
 Tuhan yang nama Maha Pengasih dan Maha Penyayang-nya menjadi awal dari segala hal kini dipakai untuk hal-hal keji. Lihat, bukan hanya setan lagi yang kita pake namanya,tapi juga mulai menyebut nama Tuhan dalam aksi-aksi merusak tersebut. Apakah manusia memang benar-benar mulai mem-fitnah Tuhan?

Duh duh duh… memfitnah Tuhan?
Kalo emang bener begitu, apa kata bumi? Apa kata alam?

Wassalam,
Ruli Amirullah
salah seorang ras manusia
(btw, alam apa kabar ya?? Ada mbah dukuuuunnn…. Yeaaah! Xixi…)

(di share atas ijin langsung dari penulis,,,hehehehhhe,,,makasih)

Mengapa Lari dari Cinta?


Mengapa Lari dari Cinta?
Written by: Ruli Amirullah

Wanita itu menatap sang pria yang baru saja mengajaknya kenalan. Ia hampir saja mengucapkan namanya seperti yang diminta oleh si pria. Tapi kemudian dia melontarkan sebuah ide, “Bagaimana bila kita tak perlu tahu nama kita masing-masing?”

“Mengapa?” Tanya pria itu keheranan

“Karena aku ingin malam ini jadi malam yang indah. Coba lihat, kita ketemu di pesta pernikahan teman kita. Kita tidak saling kenal, tapi kita saling tertarik. Mungkin lebih baik malam ini kita berbicara santai, menikmati dinner bersama dan dansa bersama pada saat acara dansa dimulai, kemudian setelah selesai, kita pulang ke rumah masing-masing tetap tanpa tahu siapa diri kita masing-masing. Pulang ke rumah dengan perasaan bahagia….”

Pria itu menatap heran pada si wanita, “Mengapa harus begitu?”

“Agar kenangan indah ini berlangsung abadi! Coba bayangkan, saat kita tua nanti dengan rambut putih memenuhi kepala, dan beragam masalah kita hadapi, kita akan memiliki suatu kenangan indah untuk menghibur diri. Kenangan akan malam ini. Kenangan yang tak akan pernah rusak. Karena telah tersimpan abadi di masa lalu dengan tanpa cacat sedikitpun. Karena memang kita tak merusaknya dengan berantem satu sama lain, dengan perbedaan pendapat, dengan rasa cemburu, dengan kekecewaan….”

Pria itu memandang takjub pada si wanita yang didapannya. Ide itu sungguh-sungguh terdengar gila. Karena sesungguhnya ia begitu ingin kenal lebih jauh. Tapi kemudian ia malah mengangguk perlahan. Dan malam itu, mereka berbicara, menyantap makan malam dan berdansa dengan indahnya. Menciptakan kenangan indahnya sendiri. Dan kemudian berpisah, tetap tanpa mengenal siapa nama asli satu sama lainnya…

(cuplikan film seri “When I met your mother – session 1” yang ditayangkan oleh Star World)

Wew…
Seru ya filmnya! It’s about love. Emang cinta gak pernah ada matinya deh. Selalu aja menjadi inspirator beragam jenis bentuk kesenian. Novel, lagu, film, drama, puisi dll dll dll.  Bahkan jujur saja, mungkin juga menjadi sering menjadi sebuah imaji dalam benak kita…

Mau tau lanjutan film itu? Akhirnya si pria keesokan harinya terus kepikiran wanita tersebut. Hidupnya menjadi gelisah. Ia pun kemudian memutuskan untuk mencari tahu siapa wanita itu. Ia tak lagi peduli apabila dengan pertemuan berikutnya, mungkin memang akan menimbulkan kekecewaan dan akhirnya merusak kenangan indah abadi yang sudah mereka simpan untuk masa tua kelak. Ia tak peduli, ia ingin lebih mengenal lagi pujaan hatinya tersebut. Ia siap kecewa karena cinta daripada tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasa. Rasa cinta yang kini begitu bergemuruh di dadanya. Ia tidak bisa lari dari cinta…

Aku jadi inget prolog dalam buku berjudul “Yusuf dan Zulaikha” yang pernah aku baca beberapa saat yang lalu. Sang penulis (Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami) berkata dalam tulisannya;

Hati yang bebas dari sakit cinta bukanlah hati sama sekali. Berpalinglah dari dunia kepada wilayah cinta yang sangat menyenangkan. Jangan biarkan hati luput dari siksaan cinta yang manis!
...
Apabila engkau hendak bebas, jadilah tawanan cinta! Apabila engkau ingin kegembiraan, bukalah hatimu bagi penderitaan cinta. Dari anggur cinta datang kehangatan dan pesona, tanpa itu hanya ada kesusahan dan keakuan yang dingin…
….
Ribuan orang yang berbakat cemerlang, tapi asing terhadap cinta, telah lenyap tanpa meninggalkan riwayat atau peninggalan yang mengaabdikan namanya. Engkau boleh mencoba seratus hal, tetapi hanya cinta yang akan membebaskan dirimu sendiri. Maka janganlah melarikan diri dari cinta, jangan! Sekalipun itu dari cinta dalam samaran duniawi. Karena ia merupakan persiapan bagi KEBENARAN TERTINGGI. Bagaimana engkau akan membaca Al Quran tanpa mempelajari abjad?
….
(Yusuf & Zulaikha, Prolog – halaman 14 )

Lebih jauh memikirkan cinta, aku kemudian jadi teringat juga pada puisi CINTA karya Kahlil Gibran. Ini penggalan puisi tersebut;

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnya memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.

Lagi-lagi waw…. Cinta emang dahsyat ya!

Seseorang yang dekat denganku pernah berkata, “Ketika aku memutuskan untuk mencintai seseorang maka aku akan totalitas mencintainya, walau aku tahu, mungkin suatu saat aku bisa kecewa karenanya. Tapi saat aku mencintainya, maka kan kuberikan yang terbaik untuk dia…”

Jadi beruntunglah yang pernah merasakan cinta! Karena seperti yang pernah aku tulis di email terdahulu, bisa jadi saat kita merasakan cinta, mungkin sesungguhnya Allah sedang mengajari kita tentang bagaimana cinta padaNYA harus kita jalani. Seperti kata Hakim Nuruddin tadi, bagaimana kita bisa membaca Al Quran bila kita tidak belajar abjad? Dengan kata lain, mungkin ia ingin mengatakan, bagaimana kita bisa mencintai yang MAHA ABADI dengan cinta sejati bila kita tidak mempelajari cinta-cinta yang pernah kita miliki sebelumnya?

Jadi mengapa harus menafikan cinta? Tanpa cinta, Taj Mahal tak akan pernah ada karena tak ada yang dikenang oleh Kaisar Shah Jahan. Tanpa cinta, Kahlil Gibran mungkin tak akan bisa menghasilkan puisi-puisi indah dan menjadikannya penyair besar. Bahkan karena cinta yang begitu menggebu pula-lah, kisah cinta Zulaikha dan Yusuf diabadikan dalam surat pada Al Quran.

Semua karena cinta…. It’s all about love!
Jadi mengapa harus takut bertemu dengan cinta dan lari daripadanya? Jangan takut pada cinta! Nikmati cinta, baik itu manisnya maupun pahitnya, pertemuannya maupun perpisahannya, tawanya maupun tangisnya, pelukannya maupun sayatannya, bahagianya maupun perihnya, harapannya maupun kecewanya. Nikmati semua dengan lengkap! Jangan hanya ingin mengambil yang manis dan menolak yang pahit. Nikmati semua!

Dan yang terpenting dari segalanya, jangan lupa untuk mengambil pelajaran dari setiap cinta yang ada. Hikmah dari kisah cinta kita tersebut. Untuk mengantar kita pada pemahaman akan cinta yang seharusnya kita tuju. Cinta yang menjadi tujuan akhir kita. Cinta pada yang Abadi…
Cinta pada Sang Maha….
Karena sesungguhnya yang hati kita cintai, adalah yang meniupkan rasa cinta itu di hati kita dan di hati semua orang yang mencintai kita…

Wassalam,
Ruli Amirullah

(share atas ijin langsung dari penulis nya heheeheee...makasih)

Kamis, 24 Februari 2011

FROM ZERO TO HERO by Mario Teguh

Sikap 1

Saya akan memimpikan yang besar,
...karena saya tak menarik bagi siapa pun,
jika impian saya dikecilkan oleh kekhawatiran
yang juga menghantui orang lain.

Jika saya hanya menginginkan yang kecil,
saya tak mungkin bersemangat untuk terlibat
dalam pekerjaan yang menjadi jalan
menuju hasil yang besar.

Saya sedang memantaskan diri
bagi impian yang besar.

I am a hero in the making.

Sikap 2

Untuk mencapai kebesaran hidupku,
...aku akan menjadi pribadi yang meskipun.

Meskipun aku tak tahu,
aku akan memulai dan melakukannya.

Karena,
dalam melakukan itulah aku akan dibuat tahu.

Meskipun aku takut,
aku akan tetap maju menghadapinya.

Karena,
semua orang yang berani adalah orang yang
juga ketakutan, tapi tegas memberanikan diri.

Meskipun apa pun, aku bersama Tuhan.


Sikap 3

Aku akan berhenti berfokus pada kekuranganku,

...
karena itu akan membuatku merasa iri dan tersiksa
dengan kelebihan orang lain.


Jika aku berfokus pada kelemahanku,

aku akan menyesali yang tak bisa kumiliki.


Jika aku mensyukuri yang dapat kulakukan dan

berfokus menjadikannya keuntungan bagi orang lain,

aku akan menjadi kuat dan gembira.


Aku akan berfokus pada yang menguatkanku.
Sikap 4

Kemiskinan bukanlah penyakit dan

...
bukanlah keadaan yang permanen.

Orang miskin yang berhati orang kaya,

akan banyak mengeluh.


Tapi,

siapa pun dengan hati orang miskin,

akan berlaku rendah hati, penuh syukur,

dan ikhlas melakukan yang sekarang

bisa dilakukannya.


Kemiskinan adalah titik awal

yang paling mengikhlaskan.


Tuhan, indahkanlah upayaku

untuk menjadi jiwa yang ikhlas.
Sikap 5

Aku akan MENGURANGI berkata;

...

lebih baik miskin harta daripada miskin hati,


karena orang lain bisa merasa,

aku sedang menghibur diriku

yang sedang belajar menerima kelemahan hidup.


Lebih baik aku bekerja,

membuktikan bahwa yang kaya hati

juga bisa menjadi kaya harta.


Lebih baik aku berlatih merajinkan diri,

karena


Tuhan menyejahterakan

jiwa rendah hati yang gemar bekerja.
Mario Teguh

Minggu, 20 Februari 2011

L - O - V - E Lyrics

L - O - V - E Lyrics: "Nat King Cole L - O - V - E lyrics in the The World Of Nat King Cole Album. These L - O - V - E lyrics are performed by Nat King Cole Get the music video and song lyrics here. L is for the way you look at me O is for the only one I see V is very, very ex"

Rabu, 16 Februari 2011

I, we .... (do not want to be a sinner)

I, we ....
Fed up with hatred,
Confined in the development of emotion
Dumb in an undivided word

I, we ....
Not wanting to be a sinner,
Who let you live in contempt
That you tie in the world, for
I, we ....

also,

I, we ....
Not wanting to be a sinner,
With a despicable waste of curses,
With the surge of emotion in words,
With a prayer that is not in order
With the growing hatred gaping

Do not make me, we
As a sinner who must maintain this hatred,

Do not make me, we
As a sinner to have to bear all your sins,

Do not make me, we
As a reason for your bad-faith attitude
when accountability was filed,

Do not make me, we
As a sinner in this world, because I, we
Also unable to bear the sins of this hatred

Hatred is realized,

Even conscious of sin,

I, we ...

Simply ...
Do not make me, we
increasingly becoming a sinner ....

Senin, 14 Februari 2011

Aku,kami….. (tidak ingin jadi pendosa)


Aku,kami….
Muak dengan rasa benci,Terkurung dlam emosi
Kelu dlam kata yang tak terbagi

Aku,kami….
Tidak ingin jadi pendosa,
Yang membiarkan mu terlunta-lunta dalam kenistaan
Yang kau kurungkan di dunia,untuk
Aku,kami….

Pun,

Aku,kami….
Tidak ingin jadi pendosa,
Dengan menghamburkan sumpah serapah yang hina,
Dengan luapan emosi dalam kata,Dengan doa yang tak guna
Dengan rasa benci yang kian menganga

Jangan jadikan aku,kami
Sebagai pendosa yang harus memelihara rasa benci ini,

Jangan jadikan aku,kami
Sebagai pendosa dengan harus menanggung segala dosa-dosamu,

Jangan jadikan aku,kami
Sebagai alas an ke pengecutan mu saat pertanggungjawaban itu diajukan,

Jangan jadikan aku,kami
Sebagai pendosa di dunia fana ini,karena aku,kami
Pun tak mampu menanggung dosa dari kebencian ini

Kebencian yang disadari,

Bahkan dosa yang disadari,

Aku,kami…

Cukup…
Jangan jadikan aku, kami semakin menjadi pendosa….